Saya tertarik menonton film ini karena film Asia Timur di luar genre martial arts sangat jarang diputar di Indonesia. Mayoritas orang Indonesia kalau ditanya tentang apa itu film Asia Timur paling jawabannya seputar Jackie Chan, Jet Li, dan Donnie Yen. Begitu melihat film Hong Kong, Korea, dan Jepang yang bervariasi jenisnya diputar di Singapura saya tak ingin kelewatan. Saya sudah menonton film Hong Kong Don’t Go Breaking My Heart dan film Korea Haunters. Setelah kelewatan film live action Beck kesempatan saya menonton film Jepang hadir dalam Bayside Shakedown edisi ketiga: Set The Guys Loose.
Film ini adalah episode ketiga layar lebar dari franchise yang sangat sukses di Jepang sana. Ia bermula dari serial TV dan kisahnya kemudian berlanjut di layar lebar di tahun 1998 dan 2003. Delapan tahun berlalu dan para anggota polisi di distrik Bayside kembali. Persoalan kriminal apa yang mereka hadapi?
Di awal film ini polisi sedang sibuk pindah-pindah ke kantor baru dan Detektif Aoshima baru saja naik pangkat. Kantor baru ini jauh lebih unggul dibanding kantor lama dari segi keamanan dan fasilitas. Sayang sekali kelebihan ini membuat para polisi Jepang lupa diri dan justru membuat kantor yang masih sibuk pindah-pindah itu rentan disusupi oleh para teroris. Polisi juga dibuat pusing tujuh keliling oleh dua tindakan kriminal yang terjadi simultan: pembobolan bank dan penyanderaan bis. Anehnya para kriminal sama sekali tidak mengambil uang apapun atau menuntut apapun. Puncaknya adalah para kriminal yang sama kemudian mengambil pistol dari brankas polisi dan menggunakannya untuk meneror orang! Tuntutan mereka adalah melepaskan semua kriminal yang dulunya pernah ditangkap oleh Detektif Aoshima. Kenapa?
Franchise Bayside Shakedown katanya memfokuskan kisah kepolisian bukan pada investigasi kriminal tetapi sindiran pada polisi Jepang yang birokrasinya konon sangat rumit dan berbelit. Kalau benar begitu ini bukan sebuah film yang bisa dimengerti oleh penonton yang tidak tinggal di Jepang dan tidak pernah menonton serial TV atau film sebelumnya. Hampir sepanjang film ini saya bingung mau dibawa ke mana sih film ini? Karakter-karakternya kebanyakan tolol (menyindir polisi Jepang?) dan tindakannya aneh-aneh. Misteri dan ancaman film ini terasa sangat – sangat ringan. Dengan perkecualian humor dari tiga kepala polisi saya merasa kalau film ini benar-benar membosankan. Tegang tidak, lucu juga tidak.
Film ini memiliki plot hole yang menganga di mana-mana. Detektif Aoshima terlihat sebagai sosok yang sangat inkompeten dan tidak pas jadi karakter utama. Dia tidak pintar, tidak punya jiwa pemimpin, dan malahan suka bingung sendiri selama di layar. Ia hanya terselamatkan karena punya karakter yang jujur; sesuatu yang sepertinya HARUS dimiliki kebanyakan protagonis film Jepang. Kemudian konon kantor polisi Jepang begitu hebat tetapi kok mudah amat dibobol hacker? Dan saya tidak bicara soal hacker jenius melainkan hacker bocah ingusan. Seinkompeten itukah kepolisian Jepang sampai tidak bisa menangkap seorang hacker yang wajahnya sudah ketahuan?
So my verdict is… ah setelah cukup lama tidak memberikan nilai E pada sebuah film, ‘penghargaan’ ini saya serahkan pada Bayside Shakedown 3. Sebuah film dengan plot yang cupu (motif si penjahat dan bawahannya membuat saya tergelak saking absurdnya) dan akting yang sangat buruk (khas banyak film Jepang yang saya lihat belakangan… OVERAKTING!) layak mendapatkan hinaan sepantasnya. Kembalikan dua setengah jam dalam hidupku!
Score: E

