Hanung Bramantyo kembali lagi! Setelah membuat salah satu film Indonesia favorit saya: Sang Pencerah, Hanung kali ini mengangkat sebuah topik yang tergolong cukup tabu di Indonesia: pluralisme. Betul sekali. Kendati negara kita ini bersemboyan Bhinekka Tunggal Eka, sudah menjadi rahasia umum kalau gesekan-gesekan antar ras, suku, dan agama adalah makanan sehari-hari. Bisakah film ? (konon tidak diberi judul oleh Hanung) menjadi sindiran yang mengena ala film pemenang Oscar Crash?
Karena ini film yang mengangkat keberagaman tokoh yang terlibat pun cukup banyak – kendati fokusnya terbagi pada tiga keluarga. Keluarga pertama adalah keluarga Tan Kat Sun, pemilik restoran Canton yang masakannya tidak halal. Akan tetapi sang pemilik sangat tenggang rasa dan membedakan panci masakan antara yang halal dan haram. Pun ia memberikan waktu sholat bagi para karyawan-karyawannya yang beragama Islam. Keluarga kedua adalah Soleh, seorang muslim yang istrinya bekerja di tempatnya si Tan Kat Sun. Soleh ini pemarah yang brengsek dan rendah diri karena dia tidak bisa bekerja. Akan tetapi ia selalu sok mengatasnamakan agama dan sok suci. Terakhir adalah Rika yang dulunya Islam tetapi barusan berpindah ke agama Katolik. Gara-gara ini dia dikucilkan oleh lingkungannya, bahkan anaknya pun kesulitan menerimanya. Satu-satunya hiburan Rika datang dari Surya, seorang teman Islam moderat yang masih mau berteman dengannya.
Salut buat Hanung yang berani mengangkat tema kontroversial macam ini ke layar lebar. Konon film ini sudah menuai kontroversi bahkan difatwa haram oleh FPI ya? Saya senang karena Hanung berani secara obyektif mengangkat agama dan ras dengan merata. Setiap agama yang ditampilkan di sini baik dari Islam, Katolik, sampai Buddha memiliki penganut yang menyebalkan dan simpatik. Mungkin ini cara Hanung secara halus menyampaikan pada penonton bahwa kalau ada yang salah, jangan langsung menuduh agama atau ras secara keseluruhan. Mungkin saja yang salah individunya bukan? Sebaliknya ada beberapa adegan di film ini yang agak-agak terlalu didramatisir. (SPOILER) Ketika restoran Canton memaksakan diri buka pada hari kedua lebaran saya langsung bisa menebak apa yang bakalan terjadi. Benar saja, tidak lama kemudian toko tersebut langsung diamuk massa. Masa sih sebagai bangsa pendatang – apalagi setelah kerusuhan anti Cina pada tahun 1998 – mereka tidak sensitif dengan masalah macam ini? Mustahil. Juga adegan pengeboman di gereja Katolik yang menurutku penyelesaiannya sangat dibuat-buat.
Para aktor artis yang terlibat dalam film ini semuanya berperan dengan cukup baik kendati kebanyakan peran mereka masih terlalu satu dimensi. Mungkin juga bukan salah mereka tetapi salah skrip yang membatasi mereka. Konon katanya karakter yang baik adalah karakter yang tak bisa dideskripsikan dengan satu kalimat saja. Di film ini saya hampir-hampir bisa menyimpulkan setiap karakter dengan satu kalimat. Generalisasi oleh Hanung? Atau ini caranya supaya penonton punya karakter yang bisa mereka mengerti dan kemudian melihat konflik melalui point of view karakter yang bersangkutan?
So my verdict is… ? saya anggap masih sekelas di bawah Sang Pencerah, baik dari cara penyutradaraan sampai keberanian penceritaan. Toh saya tetap salut dan angkat jempol buat mas Hanung yang mengangkat tema haram di dunia Indonesia ini. Menjawab tagline poster ini “Masih pentingkah kita berbeda?“, maka jawaban saya sederhana “Ya. Penting. Selama perbedaan itu tidak memecahkan kita tetapi membuat hidup kita kian berwarna karenanya“. Cuma tentu saja, realisasinya tidak semudah jawaban impianku itu.
Score: B

